Belajar Beternak Sapi Bali

http://singaraja.wordpress.com/2008/06/29/belajar-beternak-sapi-bali/

Semasa kecil setiap musim tanam padi, kakek sering mengajak aku membajaksawah. Bajak yang ditarik oleh dua ekor sapi, sambil bercerita kakek mengajariku membajak sawah. Aku heran kenapa sapi-sapi itu begitu nurut sama kakek. Kakek meneriakkan sesuatu yang aku sendiri tidak mengerti artinya, tapi anehnya setiap kali kakek bersuara jussss…. sapi-sapi itu berjalan pelan menarik bajak. Mendekati belokan kake biasanya bilang kert..ket ket… sapi-sapi itu akan mengurangi kecepatan seperti menekan rem saat naik kendaraan rasanya.

Sapi-sapi itu juga dengan tenang terus mengikuti suara-suara yang dikeluarkan kakek. Aku sangat kagum dengan sapi-sapi ini, selain tenaganya cukup besar, kalo sudah besar dijual harganya mahal. Belakangan setelah aku sekolah baru aku tahu, sapi itu ternyata ada bermacam-macam. Ada sapi unggul ada sapi bukan unggulan. Sapi yang sering kami jumpai di kampung kami disebut sapi Bali. Salah satu nutfah sapi unggulan yang asli Indonesia.

Setelah mulai bekerja ada keinginan untuk memiliki sapi, sebagai salah satu investasi. Cerita dari para tetua di kampung kami, sapi setelah dua tahun bisa dijual dengan harga dua kali lipat harga sebelumnya (harga bibitnya). Kedengerannya sangat menarik minatku.

Suatu hari aku jalan-jalan ke Jakarta dan mampir ke Gramedia, toko buku yang memiliki ratusan koleksi buku-buku menarik. Dari semua buku-buku yang terpajang, ada satu yang menarik perhatianku, “Cara Berternak Sapi Bali”. Ternyata sapi Bali udah cukup terkenal. Dari buku itu aku mengetahui bahwa sapi Bali itu memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan sapi-sapi yang lain. Sapi Bali selain dagingnya empuk dan enak, tenaganya bisa digunakan untuk membajak atau menarik gerobak. Sehingga banyak menarik perhatian orang untuk memiliki sapi Bali ini. Bahkan dari sebuah media masa yang pernah aku baca, Malaysia menternakkan sapi Bali alasannya adalah untuk membantu perkebunan kelapa sawit. Tidak hanya Malaysia, Australia juga telah membeli ribuan bibit sapi yang kemudian dikembangkan di daerahnya.

Wah ternyata sapi Bali cukup terkenal, bukan hanya di dalam negeri, juga di luar negeri. Sebagai putra Bali, ada keinginan untuk menternakkan produk unggulan asli Bali ini. Dari buku-buku yang aku baca ternyata ada dua model peternakan, yaitu: pertama disebut dengan pembibitan, kita memelihara sapi betina yang selanjutnya dikawinkan kemudian diperanakkan, anak-anak sapi ini kemudian kita jual sebagai produk. Kedua penggemukan, kita membeli bibit sapi (anak-anak sapi) kemudian kita pelihara hingga tumbuh besar setelah satu sampai dua tahun kita jual sebagai sapi potong atau dipakai tenaganya, sebagai produk.

Menurut kepercayaan kami sebagai umat Hindu Sapi adalah binatang yang suci, karena sapi membantu hidupa manusia, diantaranya: susunya sebagai pengganti ASI untuk diminum terutama bagi bayi yang ibunya memiliki air susu yang tidak lancar, dengan kata lain sapi memerankan peran Ibu bagi para bayi yang tidak beruntung. Kotorannya sebagai pupuk kandanga yang terbaik untuk tumbuh-tumbuhan seperti: palawija, dapur hidup, apotik hidup, lumbung hidup yang semuanya menopang kehidupan manusia. Tenaganya bisa digunakan untuk membajak sawah, juga sebagai penarik gerobag. Sapi jarang sekali berkelahi dengan sesama jenisnya, prilakunya juga santun sangat jarang mengganggu manusia. Oleh karena sedemikian banyak kontribusi sapi terhadap kehidupan manusia, maka umat hindu menyucikan sapi. Penyiksaan sapi dengan alasan apapun tidak dibenarkan.

Maka terjadilah kebimbangan dalam diri ini, apakah saya  melanjutkan rencana saya beternak sapi yang kemudian dijual untuk dipotong? Untuk keluar dari kebingungan ini, saya coba bertanya kepada Pandita Sri Bhagavan Dwija. Apakah berternak sapi Bali yang kemudian dijual untuk menjadi sapi potong melanggar ajaran Agama? Dengan tegas Beliau mengatakan bahwa: Sapi Bali adalah termasuk kelompok Banteng, bukan sapi yang disucikan sebagai penghasil susu untuk pengganti ASI. Jadi beternak sapi Bali tidak melanggar ajaran Agama.

Akhirnya saya mulai menabung untuk membeli bibit sapi Bali. Sedikit demi sedikit harapan saya kelak bisa menjadi banyak. Saya berusaha mencari partner kerja/tenaga kerja yang bener-bener orang miskin tetapi memiliki kemauan kuat untuk maju. Mimpi itu terwuju setelah saya bekerja di Timur Tengah.