ANALISIS PERBANDINGAN KANDUNGAN KARBOHIDRAT, PROTEIN, ZAT BESI DAN SIFAT ORGANOLEPTIK PADA BERAS ORGANIK DAN BERAS NON ORGANIK

ANALISIS PERBANDINGAN KANDUNGAN KARBOHIDRAT,
PROTEIN, ZAT BESI DAN SIFAT ORGANOLEPTIK PADA
BERAS ORGANIK DAN BERAS NON ORGANIK
SKRIPSI
Skripsi ini Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Memperoleh Ijazah S1 Gizi
Disusun Oleh:
IMAM WAHYUDIN
J 310 040 006
PROGRAM STUDI S1 GIZI
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2008

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pangan sebagai kebutuhan pokok terpenting, memiliki keterkaitan
langsung dan tidak langsung dengan kondisi kesehatan, kecerdasan dan
produktivitas sumber daya manusia. Di samping itu, pemenuhan kebutuhan
pangan bagi seluruh penduduk Indonesia merupakan pondasi kuat untuk
pembentukan kualitas manusia, merupakan pilar bagi pembangunan ekonomi
dan sektor lainnya, serta merupakan wahana untuk memenuhi hak asasi
setiap manusia atas pangan (Anonim, 2007a).
Beras merupakan salah satu padi-padian paling penting di dunia yang
dikonsumsi manusia. Sebanyak 75% masukan kalori harian masyarakat di
negara-negara Asia berasal dari beras. Beras sebagai komoditas pangan
menyumbang energi, protein dan zat besi masing-masing sebesar 63,1%,
37,7% dan 25-30% dari total kebutuhan tubuh (Anonim, 2006a). Lebih dari
50% penduduk dunia juga tergantung pada beras sebagai sumber kalori
utama (FAO, 2001; Chids, 2004; dalam Haryadi, 2006).
Beras yang dihasilkan dari tanaman padi merupakan makanan pokok
lebih dari separo penduduk Asia. Sekitar 1,750 milyar jiwa dari sekitar tiga
milyar penduduk Asia, termasuk 200 juta penduduk Indonesia,
menggantungkan kebutuhan kalorinya dari beras (Andoko, 2008).
Pangan khususnya beras, yang dikonsumsi harus sehat dan aman.
Sebagian besar petani sudah terbiasa dan hampir tidak mungkin menanam

padi tanpa pupuk kimia dan pestisida pembasmi hama (Anonim, 2007e).
Berdasarkan cara penanaman padi, dikenal beras organik dan beras non
organik (Andoko, 2008). Beras organik merupakan beras yang ditanam
dengan menggunakan teknik pertanian organik, yaitu suatu teknik pertanian
yang bersahabat dan selaras dengan alam, berpijak pada kesuburan tanah
sebagai kunci keberhasilan produksi yang memperhatikan kemampuan alami
dari tanah, tanaman dan hewan untuk menghasilkan kualitas yang baik bagi
hasil pertanian maupun lingkungan (Agrispektro, 2002; dalam Murniati,
2006).
Sedangkan beras non organik merupakan beras yang ditanam dengan
menggunakan teknik pertanian anorganik, yaitu teknik pertanian
konvensional yang membutuhkan penggunaan varietas unggul, pupuk kimia
dan pestisida. Penerapan teknik pertanian anorganik atau konvensional
membutuhkan biaya yang tinggi untuk operasionalnya. Di samping itu, teknik
pertanian ini memiliki dampak negatif di antaranya keseimbangan lingkungan
menjadi terganggu seperti tercemarnya air, udara dan tanah oleh bahanbahan kimia yang digunakan, dan produk yang dihasilkan mengandung
residu pestisida yang sangat membahayakan (Murniati, 2006).
Meluasnya pertanian organik di Indonesia ditandai dengan munculnya
perkumpulan petani organik di beberapa daerah seperti Ngudi Mulyo dan
kelompok peduli lingkungan (Keliling) di Klaten (Jawa Tengah), Trubus
Sempulur di Magelang (Jawa Tengah), Yayasan Bina Sarana Bhakti di Bogor
(Jabar), Tidusaniy di Bandung (Jawa Barat) serta Surya Antab Mandiri di
Magetan (Jawa Timur). Selain dalam bentuk wadah kelompok tani banyak
juga petani organik yang tidak tergabung dalam kelompok atau hanya 3
berusaha sendiri-sendiri, seperti di Yogyakarta, Grobogan dan Boyolali (Jawa
Tengah) (Andoko, 2008).
Varietas alami dari padi yang dapat dipilih untuk ditanam secara
organik antara lain Rojolele, Mentik Wangi dan Pandan Wangi. Di Indonesia,
padi Rojolele merupakan padi berkualitas terbaik untuk dikonsumsi (Andoko,
2008).
Beras organik relatif aman untuk dikonsumsi, karena ditanam secara
organik atau tanpa pengaplikasian pupuk kimia dan pestisida kimia.
Keunggulan beras organik dibandingkan dengan beras non organik di
antaranya beras organik relatif aman untuk dikonsumsi karena tidak
mengandung residu bahan kimia, tekstur nasi dari beras organik lebih pulen,
warna dan masa simpannya lebih baik dibandingkan dengan beras non
organik (Andoko, 2008), karena tekstur nasi pada beras organik maupun non
organik berkenaan dengan kandungan amilosa dan amilopektin yang
berbeda antara kedua jenis beras tersebut. Hal ini diperkuat dengan adanya

hasil survey masyarakat yang mengonsumsi beras organik di daerah Ngawi,
menyatakan bahwa beras organik sedikit terkontaminasi bahan-bahan kimia.
Selain itu, lebih tahan lama dibanding beras anorganik. Bahkan, nasi dari
beras organik tidak bau meski sudah dua hari, sedang teksturnya lebih pulen
(Anonim, 2006b).
Karbohidrat merupakan kandungan zat gizi utama dalam beras dan
terbanyak dalam bentuk pati (Kusharto, 1992). Kandungan zat gizi terbesar
ke-2 dalam beras setelah karbohidrat adalah protein (Haryadi, 2006). Adapun
zat besi juga terkandung dalam beras walaupun dalam jumlah yang relatif
sedikit. Karena beras merupakan bahan makanan pokok sebagian besar 4
masyarakat Indonesia, konsumsi beras secara teratur dapat membantu
mencegah terjadinya gejala anemia berkenaan dengan kandungan zat besi
yang ada didalamnya. Anemia merupakan penyakit defisiensi besi yang
banyak diderita oleh masyarakat, terutama ibi-ibi, remaja puteri dan anakanak.
Berdasarkan hasil uji laboratorium Balai Penelitian dan Konsultasi
Industri Surabaya pada 18 Maret 2004, menghasilkan data bahwa beras
organik memiliki kadar lemak lebih rendah dibanding beras non organik.
Sedangkan kadar protein, mineral dan vitamin lebih tinggi. Hasil laboratorium
yang dilakukan Sucofindo Surabaya pada 28 April 2003, menyebutkan tidak
ada residu pestisida pada beras organik (Anonim, 2006b).
Menurut Waluyo (2007), dalam studinya tentang perbedaan beras
organik dan beras non organik, menyimpulkan bahwa beras organik
mempunyai kandungan nutrisi yang lebih tinggi daripada beras non organik.
Kandungan karbohidrat dan protein pada beras organik lebih mudah
terurai/dicerna oleh tubuh. Sedangkan kandungan karbohidrat dan protein
pada beras non organik tidak terurai/tidak mudah dicerna oleh tubuh.
Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan pupuk organik
seperti pupuk kandang, pupuk hijau dan limbah panen dapat memperbaiki
sifat-sifat tanah, disamping mengurangi penggunaan pupuk kimia N, P dan K
dan meningkatkan efisiensinya (Karama, 1990; dalam Kariada dan Aribawa,
2005). Hal yang sama dikemukakan pula oleh Adiningsih, 2000; Diwiyanto,
2000; dalam Kariada dan Aribawa, 2005, bahwa pemberian pupuk organik
(kompos) 1,5-2,0 t/ha pada lahan sawah dapat memberikan dampak positif
terhadap hasil panen. 5
Pupuk organik merupakan bahan pembenah tanah yang paling baik
dan alami dari pembenah buatan/sintetis. Pada umumnya pupuk organik
mengandung hara makro N, P dan K rendah daripada pupuk anorganik, tapi
mengandung hara mikro dalam jumlah cukup yang sangat diperlukan
pertumbuhan tanaman. Sebagai bahan pembenah tanah pupuk organik
mencegah terjadinya erosi, pengerakan permukaan tanah (crusting) dan
retakan tanah, mempertahankan kelengasan tanah serta memperbaiki
pengatusan dakhil (internal drainage) (Sutanto, 2006; dalam Kariada dan
Aribawa, 2005).
Semakin banyak pupuk organik yang diberikan atau semakin tinggi
dosis pupuk organik berarti semakin banyak kadar hara yang akan dihasilkan
dari hasil mineralisasi pupuk organik yang dapat diserap oleh tanaman padi
untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil padi.
Berdasarkan permasalahan di atas, penulis tertarik untuk melakukan
penelitian mengenai analisis perbandingan kandungan karbohidrat, protein,
zat besi dan sifat organoleptik pada beras organik dan beras non organik.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana perbedaan
kandungan karbohidrat, protein, zat besi dan sifat organoleptik pada beras
organik dan beras non organik.
C. Hipotesis
Perbedaan teknik budi daya pada tanaman pangan secara umum akan
memberikan perbedaan komposisi kandungan gizi hasil tanaman tersebut. 6
Beras organik dan beras non organik dengan teknik budi daya yang berbeda
akan memberikan perbedaan kandungan karbohidrat, protein, zat besi dan
sifat organoleptik.
D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengetahui perbedaan
kandungan karbohidrat, protein, zat besi dan sifat organoleptik pada
beras organik dan beras non organik.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui kandungan karbohidrat pada beras organik dan beras
non organik.
b. Mengetahui kandungan protein pada beras organik dan beras non
organik.
c. Mengetahui kandungan zat besi pada beras organik dan beras non
organik.
d. Mengetahui sifat organoleptik pada beras organik dan beras non
organik.
e. Menganalisis perbedaan kandungan karbohidrat, protein, zat besi dan
sifat organoleptik pada beras organik dan beras non organik.
E. Manfaat Penelitian
1. Bagi Konsumen (Masyarakat)
Memberikan informasi kepada masyarakat tentang kandungan
karbohidrat, protein, zat besi dan sifat organoleptik pada beras organik 7
dan beras non organik, dan sebagai bahan pertimbangan bagi
masyarakat dalam memilih beras yang baik dan sehat.
2. Bagi Instansi Pemerintah
Sebagai bahan kajian dan informasi kepada instansi pemerintah tentang
kandungan karbohidrat, protein, zat besi dan sifat organoleptik pada
beras organik dan beras non organik dalam menentukan beras yang baik
dan sehat bagi kebutuhan gizi masyarakat.
3. Manfaat Bagi Penulis
Memberikan tambahan ilmu kepada penulis tentang kandungan
karbohidrat, protein, zat besi dan sifat organoleptik pada beras organik
dan beras non organik agar penulis dapat memilih bahan makanan yang
sehat.